Mengemas Video Berita yang Layak Tayang

Kunci video berita adalah fakta dan kualitas gambar yang jelas. Tak peduli apakah diambil dari smartphone atau kamera profesional. Tips bagi mobile journalist (MoJo) pemula.

Demi mematuhi imbauan social distancing (jaga jarak) dan menghindari kerumunan, sejumlah humas instansi swasta dan pemerintah mengirimkan materi berita ke media agar dipublikasikan. Materi yang dikirimkan sebenarnya sudah lengkap, mulai teks, audio, foto dan video.

Teks, sudah barang tentu akan diserap semua platform. Audio dibutuhkan bagi radio. Foto, dapat dimuat media online, meskipun bagi redaksi media cetak barangkali bukan pilihan mudah, karena tak semua foto tersebut layak cetak. Sedangkan, video akan diperlukan oleh televisi.

Upaya narasumber mengirimkan materi berita tersebut sebenarnya sangat membantu jurnalis di masa pandemi COVID-19. Akan tetapi, redaksi kerapkali harus kecewa lantaran materi video yang dibagikan tak sesuai harapan sehingga tak layak ditayangkan.

Kondisi tersebut mengingatkan bagaimana para pemula smartphone videographer dan mobile journalist (MoJo) seringkali kewalahan ketika mengawali syuting. Meski akrab dengan tayangan video di TV, dalam praktiknya ternyata tak mudah untuk mengeksekusi.

Cut to Cut

Ini poin penting tentang salah kaprah yang kerap dilakukan para videografer smartphone tanpa mereka sadari. Sebuah garis tipis yang membedakan antara karya video amatir dan profesional.

Saat merekam video dengan ponsel, pernahkah Anda menggerakkan kamera ke segala arah ketika tombol merah (record) pada posisi on (hidup)? Kemudian, Anda baru menekan off (berhenti) setelah bingung akan mengarahkan kamera kemana lagi. Bahkan pergerakan kamera ponsel itu dilakukan tanpa melihat layar. Lalu Anda berpikir, begitulah memang cara mengambil video.

Kalau Anda merasa tersindir dengan paragraf di atas, saya harus mohon maaf karena hasil video itu akan masuk dalam kategori video amatir.

Lalu, bagaimana yang disebut profesional dalam konteks berita dengan video?

Sekarang, saya mengajak Anda duduk di depan televisi dan menyaksikan sebuah program berita. Adakah video seperti yang saya sebutkan di atas? Jawabannya, tentu saja tidak ada. Lalu bagaimana cara video dalam berita tersebut dibuat?

Ya, sebagian besar video yang ada dalam berita TV diambil atau disyuting dengan cara seperti pengambilan foto. Perekaman dilakukan di satu titik, lalu tekan tombol rekam. Objeknyalah yang bergerak, bukan kameranya. Teknik ini disebut cut to cut. Ini dasarnya.
Lalu, perekaman akan dilakukan dari berbagai sudut (angle) dan ukuran. Apabila sebuah objek dan aktivitasnya sudah diambil dari berbagai sudut dan ukuran, seorang camera person baru akan berpindah ke objek dan aktivitas lainnya.

Seringkali video smartphone diambil dalam dua ukuran saja, yaitu lebar (wide) dan sedang (medium). Tapi, ada satu jenis ukuran yang akan memberikan nyawa dalam semua video, yakni ukuran close up. Close up seringkali tidak bisa diambil dengan cara zoom lewat layar HP karena keterbatasan kemampuan lensa HP. Anda harus mendekati objeknya. Close up tidak hanya berlaku bagi objek manusia, tetapi juga pada objek lainnya, seperti kendaraan, hewan, tumbuhan dan lain-lain.

Namun, ketika membahas tentang teknik cut to cut ini, bukan berarti Anda tidak boleh menggerakkan kamera sama sekali. Pergerakan kamera (camera movement) tersebut ada tekniknya. Selama belum menguasainya, maka teknik cut to cut ini baiknya dikhatamkan lebih dahulu.

Berbasis Jurnalistik

Jangan pernah lupa kalau tujuan penyampaian pesan ini adalah untuk keperluan jurnalistik, yakni membuat berita berbasis video. Bukan untuk memproduksi film, video clip, atau video sinematik lainnya. Konsep berpikir ini penting karena eksekusi saat syutingnya akan berbeda-beda.

Ketika membuat video berbasis jurnalistik maka unsur fakta menjadi vital. Agar faktual, video harus muncul apa adanya. Tidak perlu diberi gradasi warna berbeda dan transisi antar video yang beragam. Konsepnya, sederhana.

Nah, kalau menggunakan gawai, proses syuting jadi jauh lebih mudah karena pada dasarnya smartphone itu bekerja dalam format otomatis atau auto. Berbeda dengan kamera profesional yang memiliki banyak parameter yang harus diatur, seperti iris, white balance, filter dan sebagainya. Kamera profesional sebenarnya juga bisa bekerja secara auto, namun bagi camera person yang profesional, mereka umumnya lebih nyaman menggunakan mode manual.

Jadi, tak perlu merasa amatir atau tidak percaya diri apabila syuting dengan smartphone yang menggunakan mode auto.

Ingat, story is king.

Kalau videonya bernilai berita, Anda tak akan ditanya mengambil gambar dengan kamera apa.

Wawancara dan Stok Gambar

Penyampaian informasi dalam bentuk video sebenarnya relatif sama dengan jenis berita dari platform lain. Bedanya, video harus sesuai dengan teks atau naskahnya. Kalau video tak sesuai naskahnya maka beritanya jadi terkesan ‘membohongi”. Misalnya, naskahnya membahas pembatasan lalu lintas saat COVID-19 akan tetapi gambarnya pasien yang diisolasi di rumah sakit.

Ada dua hal utama yang harus ada dalam setiap berita video. Pertama, yaitu wawancara. Informasi itu masuk dalam kategori berita ketika ada wawancara atau konfirmasinya. Durasi perekaman adalah sepanjang wawancara itu. Jangan sampai terpotong, karena informasi penting bisa jadi tidak terekam.

Kalau kita perhatikan tayangan di televisi, ukuran pengambilan gambarnya seperti ukuran pas foto. Yakni, dari kepala sampai ke dada. Atau, bisa juga dari kepala sampai ke pinggang. Kalau Anda seorang mobile journalist (MoJo) maka sebaiknya pilih ukuran dari kepala sampai dada. Gawai tidak boleh jauh dari sumber suara. Suara narasumber harus terdengar jelas. Kontennya ada di situ.

Yang kedua, konten berita televisi tak hanya berisi wawancara saja bukan? Pasti ada video lain yang menggambarkan tentang hal yang sedang dibahas. Ini adalah visual-visual yang mendukung pemahaman pemirsa. Video ini kerap disebut sebagai stok gambar (stock shot). Ada pula yang menyebutnya dengan istilah footage.

Video inilah yang diambil dengan teknik cut to cut seperti dijelaskan sebelumnya. Durasi setiap shot umumnya 8-10 detik. Tapi, kalau yang diambil adalah sebuah aktivitas maka bisa disesuaikan antara durasi dengan kegiatannya. Misalnya, ketika merekam orang yang sedang minum, jangan sampai video dimatikan sebelum gelas menyentuh bibir objeknya.

Jadi, secara teknis, kebutuhan gambar untuk berita berbasis video itu cukup sederhana. Tidak rumit. Bila mau dibayangkan, pengambilan videonya juga tidak mondar-mandir. Tapi, lebih banyak berdiri diam di beberapa titik tertentu.

Cara tersebut tidak hanya bisa ditujukan bagi para mobile journalist (MoJo), citizen journalist atau praktisi jurnalistik lainnya. Teknik itu juga bisa diadopsi oleh para humas berbagai institusi yang ingin berbagi informasi kepada media, terutama selama pandemi COVID-19 berlangsung.(*)


KLINIK MOJO diasuh oleh Tim Gawai Piawai

Hendrawan Setiawan adalah jurnalis senior TV CNN Indonesia yang telah berpengalaman di bidang penyiaran selama kurang lebih 15 tahun. Dia juga Direktur Konten LPK Gawai Piawai dan instruktur bersertifikat internasional dari KineMaster.

Share: