14 Tips Meliput Peristiwa Traumatis. Apa Saja?

Konflik, bencana, atau peristiwa traumatis lainnya kerap meninggalkan dampak psikis pada korban. Bagaimana sebaiknya jurnalis meliput dan memberitakan tanpa meninggalkan trauma?

Adnan Firdaus

Seorang reporter mendatangi lokasi yang baru saja terkena gempa. Karena tuntutan kecepatan, ia memotret ke sana kemari, lalu memberondong saksi mata yang juga korban dengan sejumlah pertanyaan. Korban yang kehilangan anak dan suaminya, menolak menjawab pertanyaan-pertanyaan wartawan tersebut karena merasa tertekan.

Dalam meliput insiden traumatis seperti di atas, jurnalis memerlukan pendekatan empatik pada narasumber yang terlibat langsung dalam peristiwa tersebut. Kejadian traumatis seperti perang, bencana alam, kekerasan seksual, kecelakaan, teror atau ledakan bom biasanya menimbulkan dampak psikis yang mendalam pada para korbannya.

Menayangkan peristiwa secara dramatis dan berulang-ulang, mewawancarai korban yang sedang terguncang sesaat setelah peristiwa terjadi, atau merekam gambar tanpa mempertimbangkan perasaan keluarga korban, tentu akan menambah efek trauma terhadap korban dan keluarganya. Itulah sebabnya, jurnalis perlu memahami bagaimana meliput peristiwa traumatis yang lebih mengedepankan empati.

Dikutip dari buku Panduan bagi Jurnalis dalam Meliput Peristiwa Traumatis, Yayasan Pulih membagikan kiat-kiat menjalankan tugas jurnalistik yang mengedepankan empati sebagai berikut:

Tugas jurnalistik dan tugas kemanusiaan

Pada saat-saat tertentu, tidak mustahil jurnalis menjadi orang pertama yang akan tiba di lokasi peristiwa. Dalam situasi di mana korban masih bergulat dengan penderitaannya, menyelamatkan diri dan harta bendanya, jurnalis kerapkali menghadapi dilema apakah mereka harus menjalankan tugas jurnalistik terlebih dahulu atau turut menolong korban? Dalam hal ini, naluri kemanusiaanlah yang menentukan mana yang harus kita kerjakan lebih dulu.

Mengutamakan keselamatan

Tuntutan kecepatan dan mengejar berita eksklusif hendaknya tidak mengabaikan faktor keselamatan. Dalam meliput konflik atau bencana, jurnalis harus selalu mengutamakan keselamatan dirinya.

Perhatian dan peka terhadap kondisi psikologis sumber berita

Penyanyi yang baru saja menggung, menteri yang menyampaikan kebijakan pemerintah, pengusaha yang tengah memperkenalkan produk baru, mahasiswa yang sedang mengekspresikan kemarahannya terhadap koruptor, korban perkosaan dan bencana alam memiliki kondisi psikologis yang berbeda-beda. Perbedaan situasi di atas akan mempengaruhi cara jurnalis dalam menghadapi narasumber. Dalam liputan peristiwa traumatis, perlakuan tidak simpatik pada korban akan membuat mereka semakin tertekan.

Menghargai sikap korban

Tidak semua korban bisa dan mau menghadapi wartawan. Entah karena penderitaan yang masih dialaminya atau tak ingin membuat masalahnya menjadi meluas. Atau, bisa saja korban bukannya tidak mau diwawancarai, namun waktu dan tempatlah yang tidak tepat. Oleh karena itu, wartawan harus menghargai sikap itu.

Menghindari pertanyaan mencecar

Cara bertanya yang mencecar mungkin pantas untuk diberikan kepada politisi atau pejabat yang menyampaikan kebijakan baru. Namun, cara itu tidak sepatutnya diterapkan terhadap korban peristiwa traumatis. Jurnalis tidak boleh bersikap seolah-olah seperti polisi yang sedang menginterogasi seorang tersangka. Penggalian informasi dapat dilakukan dengan cara yang lebih sopan.

Mengetahui saat mulai dan berhenti

Saat melakukan wawancara, jurnalis harus tahu kapan memulai wawancara, melanjutkan pertanyaan dan kapan harus berhenti. Pada saat korban menolak berkomentar karena masih berduka, jurnalis seharusnya memiliki kearifan untuk menghentikan pertanyaan. Apakah patut bagi jurnalis terus memberondong pertanyaan kepada korban yang sedang menangis dan menunjukkan sikap emosional?

Memperkenalkan diri dengan jelas

Hal yang paling penting untuk diingat ketika meliput adalah memperkenalkan diri dengan jelas, kendati kamera dan kartu pengenal telah cukup membuat calon narasumber paham bahwa yang menemuinya adalah seorang wartawan. Identitas perlu disampaikan agar korban tahu apa yang harus dilakukan serta implikasi yang mungkin ditimbulkan. Karena, tidak semua orang mau masalah dan penderitaannya diungkap ke media massa.

Memanfaatkan sumber alternatif

Situasi duka biasanya membuat korban dalam keadaan tidak siap untuk diwawancarai. Dalam hal ini, wartawan tidak harus duduk berdiam diri, apalagi sampai larut dalam kesedihan. Jurnalis bisa menyiasatinya dengan menggali informasi dari sumber alternatif selain korban.
Apabila ingin mendapatkan data tentang profil korban, cobalah melakukan riset. Jurnalis bisa mencari data korban di kantor tempatnya bekerja, dokter, ataupun pihak-pihak terkait. Selain tidak terlibat emosi dengan korban, sumber inilah yang mungkin bisa menjelaskan secara objekif peristiwa yang dialami korban. Kalaupun terpaksa harus menghubungi salah satu keluarganya, berbicaralah dengan narasumber yang terlihat lebih tegar.

Memberi pengertian kepada korban

Dalam kasus-kasus tertentu, keengganan korban untuk diwawancarai bukan hanya persoalan waktu dan tempat. Ada kemungkinan korban khawatir identitasnya terbongkar dan dikenali oleh para pelaku sehingga menjadi sasaran berikutnya. Jika memang informasi darinya sangat dibutuhkan dan penting untuk kasus tersebut, jurnalis harus dapat meyakinkan korban bahwa identitasnya akan dirahasiakan, entah dengan cara menyamarkan nama, memburamkan wajah, atau mengubah suaranya.

Memulai dengan ungkapan simpatik

Untuk membuka wawancara, mulailah dengan ungkapan simpati kepada korban. Seringkali pernyataan “Saya ikut prihatin dengan apa yang Ibu/Bapak hadapi” bisa menjadi pembuka yang bagus untuk melanjutkan dengan pertanyaan “Bagaimana keadaan korban saat ini?”. Pastikan bahwa apa yang kita tulis tidak akan menambah penderitaannya, tapi justru sebaliknya.

Tidak mulai dengan pertanyaan sulit

Pada saat kejadian atau tak lama setelah peristiwa, korban tentu saja masih mengalami trauma. Mungkin hanya sedikit saja orang yang benar-benar terbiasa dengan situasi buruk semacam itu. Karena itu, sodorkan pertanyaan awal dengan materi yang ringan. Misalnya, bukalah dengan pertanyaan “Bagaimana kondisi bapak saat ini?”, setelah itu bobot pertanyaan mulai ditingkatkan. Ibarat olahraga, ini semacam pemanasan.

Banyak mendengarkan, bukan berbicara

Dengarkanlah apa yang disampaikan oleh narasumber. Kesalahan terbesar yang sering dilakukan oleh wartawan adalah berbicara terlalu banyak selama wawancara. Yang perlu diingat, wawancara dimaksudkan untuk menggali sedalam mungkin informasi dari sumber, bukan sebaliknya.

Berhati-hati menyela pembicaraan

Bisa jadi, jawaban yang diberikan korban keluar dari konteks atau melantur kemana-mana. Namun, cara menyelanya harus mempertimbangkan banyak hal. Wartawan bisa mengingatkan korban dengan mengatakan, “Maaf, Pak, maksud saya…”. Cara menyela yang tidak tepat bisa membuyarkan konsentrasi narasumber atau membuatnya tidak menghargai kita.

Menyampaikan terima kasih

Sampaikan terima kasih kepada narasumber yang telah rela meluangkan waktu untuk wawancara.(*)

Baca Juga:

Share: