FactWire: Kantor Berita Tanpa Editor

Kantor berita nirlaba Hong Kong, FactWire, memiliki pendekatan radikal terhadap ‘jurnalisme kolektif’: tidak ada editor

Marc Lourdes

Sewaktu kepercayaan publik di Hong Kong terhadap media tengah diambang bahaya, sekelompok jurnalis investigasi yang tergabung dalam FactWire berhasil menggalang dana melalui crowdfunding. Jumlahnya tak main-main, sekitar 600 ribu dolar HK, nilai yang relatif besar untuk sebuah tawaran yang sederhana, yakni menegakkan jurnalisme investigatif berdasarkan fakta, bukan opini.

Janji itu berhasil memikat publik yang nyaris apatis terhadap kondisi media yang dikuasai konglomerasi Tiongkok. FactWire menawarkan pentingnya menjamin jurnalisme yang tidak terikat pada kepentingan bisnis atau politik dalam bentuk apapun.

Berangkat dari mimpi itulah, pada 2016, sang pendiri Don Ng memutuskan untuk membangun kantor berita khusus liputan investigasi yang tidak bias yang selama ini makin ditinggalkan media arus utama. Ide Ng itu terinspirasi dari para pendiri Associated Press (AP), Reuters dan AFP.

Don Ng, pendiri FactWire (sumber: Facebook FactWire)

Uniknya, Ng menyingkirkan hierarki ruang redaksi yang sudah lama berlaku, mengisi timnya hanya dengan jurnalis dan meminta mereka untuk saling meninjau dan mengedit satu sama lain. FactWire melakukan perubahan radikal dalam ruang redaksinya, bertolak belakang dari jurnalisme di era digital, yakni menerapkan ‘jurnalisme kolektif’, beroperasi tanpa memiliki redaktur. Dan, konsep itu nyatanya berhasil.

Hasilnya adalah layanan berita back-to-basics yang berfokus pada investigasi jangka panjang. Mereka memilih melayani publik secara tak langsung melalui lembaga media yang menjadi pelanggannya, alih-alih memproduksi konten yang bagus hanya untuk mengejar traffic atau viral.

Trik Bertahan

Don Ng memulai memikirkan mendirikan FactWire setelah menyaksikan gerakan massa Occupy Hong Kong beberapa tahun lalu dan melihat bagaimana pengunjuk rasa mengejar seorang reporter TV dan mencoba memukulnya. Mereka tidak bahagia karena merasa media tidak melaporkan berita secara adil.

“Saya belum pernah melihat peristiwa semacam itu sepanjang karier, dan saya mulai bertanya-tanya mengapa kredibilitas wartawan kami menjadi begitu rusak sehingga warga Hong Kong tidak lagi mempercayai kami? Saya menyimpulkan, itu karena beberapa ruang redaksi tidak lagi dianggap adil dan independen oleh publik,” katanya.

READ  Pandemi Mengungkap Ketimpangan dalam Komunitas yang Terpinggirkan

Dari situlah, Ng jadi berpikir bagaimana dirinya dapat melakukan sesuatu yang dapat memenangkan kepercayaan masyarakat kembali pada pers. Dia merasa perlu memulai ruang berita yang dapat berfungsi secara independen, dengan pembiayaan yang tidak berasal dari pengusaha.

Pada awalnya, Ng khawatir ide itu akan menjadi perjuangan yang sangat berat. Tetapi setelah beberapa bulan beroperasi, 99 persen media Hong Kong – online dan mainstream – berlangganan FactWire. Hingga sekarang, dia masih belum bisa memercayai itu.

Setiap kali FactWire menerbitkan artikel, hampir 99 persen media di Hong Kong menggunakannya. Bahkan media pro-Cina terkadang juga menggunakan investigasi kantor beritanya, tergantung pada subjeknya.

Memanfaatkan Celah

Saat ditanya, apa rahasia keberhasilannya. Ng menjawab, dirinya harus tahu celah apa yang dapat dimanfaatkan oleh FactWire.

Dalam praktik media di Hong Kong, ungkapnya, ada self-censor (swa-sensor) karena kentalnya kepentingan politik dan bisnis. Sebagian besar perusahaan pers tidak melakukan investigasinya sendiri karena faktor tersebut. Tetapi jika orang-orang seperti FactWire memiliki hasil penyelidikan, mereka akan menggunakannya karena mereka dapat mengatakan itu adalah investigasi FactWire, bukan milik mereka.

Ng selalu mengatakan bahwa Indeks Kebebasan Pers yang diterbitkan setiap tahun menyesatkan. Persoalannya bukan karena kebebasan pers di Hong Kong telah menurun sejak 1997, akan tetapi karena indeks swa-sensor di internal perusahaan pers sendiri yang semakin buruk dan terus memburuk.

Indeks swa-sensor di Hong Kong begitu buruk seperti sekarang, salah satunya akibat bisnis para pengusaha yang memiliki media. Sebelum 1997, mereka tidak memiliki banyak kepentingan bisnis di Cina. Mereka tidak melihat Cina sebagai pasar besar, dan pemerintah Hong Kong masih belum menjadi bagian dari negara itu.

Namun setelah 1997, Cina menjadi pasar besar bagi para pengusaha di belakang pers. Sebagian besar dari mereka memiliki investasi besar di negara itu, sehingga mereka harus mendengarkan Tiongkok, mereka harus menjaga kepentingan bisnis mereka, memastikan pelaporan tidak membuat marah salah satu mitra bisnis mereka di sana. Begitu banyak kepentingan.

READ  Bagaimana Collective Intelligence Menggerakkan Media Komunitas?

“Pemerintah bukan lagi Inggris, sekarang Beijing. Jadi mereka juga punya pertimbangan politik. Dan begitulah swa-sensor muncul. Sebagian besar pengusaha menggunakan pers sebagai alat bisnis mereka daripada layanan publik,” ujarnya.

Mengelola bisnis media di Hong Kong, menurut Ng, sangat sulit. Diapun mengungkapkan sejumlah tantangan yang dihadapinya. Salah satunya, kesulitan biaya, karena FactWire tidak menawarkan gaji murah untuk reporter investigasi. Biaya sewa ruang kantorpun juga mahal. Ng mengaku, beberapa orang sebenarnya telah menawari mereka kantor gratis, akan tetapi ditolak lantaran mereka ingin tetap mandiri.

Ruang redaksi tidak memiliki editor. Wartawan memberikan suara untuk keputusan editorial. Dan mereka menghasilkan jurnalisme investigatif saja. Tapi @FactWireWorld di Hong Kong sukses.

Dia mengakui, kantor beritanya sejauh ini belum memiliki pendapatan. Mereka mengandalkan tulang punggung operasional dari donasi publik.

“Produk yang kami jual bukanlah artikel. Bukan itu misinya. Orang yang membayar atau menyumbangkan uangnya untuk kami bukan untuk membaca artikel FactWire, tetapi karena ingin agar media ini tetap beroperasi. Itulah cara kami bertahan.”

Meski demikian, lanjutnya, redaksi sebelumnya sempat mendiskusikan sejumlah terobosan. Di antaranya, apakah mereka perlu mendorong lebih banyak liputan human interest yang dapat menarik perhatian publik yang lebih luas sehingga dapat meningkatkan jumlah pembaca. Atau, apakah mereka harus memasang paywall. Namun, pada akhirnya, mereka menemukan fakta bahwa orang tidak benar-benar membayar karena media menulis artikel yang indah.

“Di Hong Kong, jika Anda mencari artikel yang indah, ada banyak situs web yang menyediakan layanan ini. Tetapi mereka mendonasikan uangnya karena mereka ingin kita tetap di tempat sekarang, menjadi diri kita sendiri,” ujarnya.

Infografik: Nuusdo

Sejauh ini, FactWire terus berusaha meningkatkan jumlah sponsor bulanannya. Sekarang ini, setidaknya ada 252 sponsor dengan besaran donasi sekitar 25 dolar per bulan.

Jika tren itu terus meningkat, media mereka akan mampu berada pada kondisi keuangan yang stabil untuk membiayai lebih banyak wartawan dan menghasilkan lebih banyak cerita. Pada saat itulah, kata Ng, mereka akan dapat menerapkan lebih banyak model bisnis, seperti berlangganan atau buletin bulanan. Jika tidak, FactWire akan tetap menjadi layanan publik gratis, selalu bergantung pada sponsor publik.

READ  Minim Verifikasi, Media Bisa Tergelincir Sebarkan Hoaks?

Tak Ada Editor

Kantor berita FactWire saat ini memiliki tujuh wartawan dan satu peneliti. Dua reporter adalah penulis bilingual dalam Bahasa Inggris dan Mandarin, dan yang lainnya hanya menulis dalam bahasa Mandarin. Tidak ada editor. Untuk setiap liputan, wartawan mengambil peran yang berbeda. Yang satu menulis, satu lagi menyunting, dan satu orang lainnya memeriksa fakta. Jadi, sebenarnya, semuanya mengedit cerita dan keluar dengan versi final. Dia menyebutnya, bentuk ruang redaksi bersama atau kolektif.

Jadi siapa sebenarnya yang menjalankan operasi? “Bisa dikatakan ini adalah ruang berita eksperimental, tempat para reporter mengelola sendiri. Tidak ada bos. Untuk keputusan editorial, mereka akan memilih. Jika ada terlalu banyak argumen pada cerita tertentu, keputusan mayoritas yang akan menentukan. Untuk manajemen, mereka akan mendengarkan saran saya. Seperti, apakah kita akan berganti kantor, atau apakah kita akan memangkas staf,” terangnya.

Lalu, apa peran Ng sendiri? Ng mengatakan, selama proses crowdfunding dirinya berjanji tidak akan dipekerjakan oleh FactWire. Dia mengambil peran sebagai juru bicara, penggalangan dana dan tampil di depan publik, karena sebagian besar wartawan tidak ingin muncul. Ng tidak ikut serta dalam pengelolaan redaksi sehari-hari. Dia mengadakan pertemuan dengan mereka hanya sebulan sekali atau apabila mereka membutuhkan nasihat.

Sebagai kantor berita, FactWire tidak bergantung pada iklan dan rasio klik. Sebagian besar pembaca mengonsumsi berita mereka melalui outlet media masing-masing, bukan dari situs web FactWire. Jadi, lalu lintas untuk situs web sangat rendah.

Mereka hanya mempublikasikan cerita di situs sekitar enam, delapan atau 10 jam lebih lambat dari layanan kantor berita mereka. Yang penting adalah berapa banyak media yang mengambil cerita kami. (*)

Marc Lourdes adalah jurnalis di Malaysia. Pernah menjabat sebagai direktur digital CNN untuk Asia Pasifik. Tulisan aslinya dalam Bahasa Inggris dimuat di Splice Neswroom. Dimuat di Nuusdo atas seizin Splice.