Menggagas Jurnalisme Empati

Pengantar: Artikel yang ditulis Yosep Adi Prasetyo (Stanley) ini merupakan bagian dari Buku ‘Pers di Terik Matahari’, yakni kumpulan catatan saat dirinya menjadi Ombudsman Aceh Kita (2003-2005). Tulisan ini dimuat kembali di NUUSDO atas se-izin penulisnya.

Yosep Adi Prasetyo

Dunia jurnalisme sejak akhir 1999 telah memunculkan pendekatan jurnalisme baru yang disebut sebagai jurnalisme damai. Sebelumnya di kalangan pendukung lingkungan dan gerakan oposisi di Indonesia telah beredar semacam praktek jurnalisme advokasi yang tak lain adalah upaya menyuarakan kaum tak bersuara (voicing the voiceless) antara lain kelompok masyarakat adat, kaum perempuan, anak, usia lanjut serta kelompok minoritas lainnya yang termarjinalisasi dalam proses pembangunan.

Perlu diketahui bahwa kelompok marjinal seperti kaum miskin yang mencapai angka 40 juta orang, ditambah para perempuan, orang tua, anak-anak, masyarakat terasing, kaum gay, waria dan lainnya selama ini tak mendapatkan tempat yang cukup dalam media kita. Media lebih banyak meliput para elit (politik, ekonomi maupun selebritis).

Yang jadi pertanyaan, apakah pers lupa pada kenyataan bahwa kelompok mayoritas yang hanya diam tanpa kemampuan bersuara. Apakah kata-kata yang muncul dalam media hanyalah kata-kata hampa makna yang tak mampu mendorong orang untuk bertindak?

Banyak pemikir media saat ini mengaris-bawahi perlunya mengembangkan model komunikasi empati. Khususnya ketika perubahan kehidupan (bernegara) tak lagi seirama dengan apa yang diharapkan (masyarakat). Mereka yakin bahwa perlu dikembangkan sebuah model jurnalisme empati di tengah memudarnya kemampuan berkomunikasi secara empati antar personal, kelompok, organisasi maupun antar budaya. Semua itu berperan dalam mengikis kemampuan komunikasi empati orangorang yang selama ini melakukan komunikasi massa di ruang publik.

Baca juga:

Kita bisa memeriksa kembali bagaimana para pasangan kandidat presiden dan wakil presiden dalam kampanye Pemilu 2004 lalu berlombalomba mempraktekkan komunikasi empati melalui iklan dan kampanye mereka. Namun setelah muncul presiden dan wapres yang baru justru yang berkembang adalah komunikasi anti-empati antara pimpinan pemerintahan dengan masyarakat. Hampir semua menteri juga dijangkiti “penyakit”komunikasi yang sama. Demikian pula juru bicara kepresidenan yang sebetulnya bisa menjembatani kesalahpahaman dengan menjelaskan duduk perkara sebuah persoalan, malah kerap menjadi biang kerok dari persoalan itu sendiri.

Apakah komunikasi empati itu? Kata “empati” (empathy) berasal dari kata “einfuhlung” yang pertama kali digunakan oleh seorang psikolog Jerman. Secara harafiah kata tersebut berarti “merasa terlibat”. Empati sendiri didefinisikan sebagai sikap dan kemampuan untuk melihat dunia dari sisi orang lain. Ibarat seorang dokter yang sedang mengobati pasiennya, si dokter harus bisa melihat dunia dari kaca mata pasiennya.

Jurnalisme Empati vs Jurnalisme Mainstream

Dalam jurnalisme empati, seorang wartawan harus bisa mengerti kemauan khalayak pembaca/pendengarnya. Pentingnya sikap empati dalam komunikasi dinyatakan oleh psikolog terkemuka, Carl Rogers, “kendala utama bagi komunikasi antar personal satu sama lain adalah kecenderungan alamiah kita untuk menghakimi, menilai, menyetujui atau membantah pernyataan orang lain atau pun pernyataan kelompok”. Dengan demikian kegagalan komunikasi lebih disebabkan karena kurangnya kemampuan mendengarkan dengan empati. Kunci untuk mendengarkan secara efektif yang merupakan kunci dari komunikasi yang efektif tak lain adalah empati.

Mendengar, Bukan Berprasangka

Pada dasarnya seorang pembicara atau penulis yang baik adalah pendengar yang baik. Bicara, menulis dan mendengarkan adalah bagian esensial dari tindakan komunikasi yang membentuk kehidupan ini. Cinta, benci, rindu, pengertian dan salah pengertian terbangun lewat bicara, menulis dan mendengarkan.

Empati memungkinkan kita untuk memahami, secara emosional dan intelektual, apa yang sedang dialami orang lain. Empati tak akan terlalu bermakna jika kita tidak mampu mengkomunikasikan pemahaman empati ini kepada orang lain.

Dalam empati, kita sebetulnya tidak perlu menempatkan diri kita pada posisi orang lain. Kita ikut serta secara emosional dan intelektual dalam pengalaman orang lain. Dengan berempati kita membayangkan diri kita pada kejadian yang menimpa orang lain. Model komunikasi ini berlandaskan pada kesadaran untuk memahami perasaan, kepedulian dan perhatian terhadap komunikan atau siapapun, dengan segala latar belakang kehidupan dan budayanya, orang yang kita ajak bicara. Sikap dan pemahaman ini akan menumbuhkan pemahaman dan memperbaiki komunikasi secara tepat dalam kehidupan sehari-hari.

Saat ini kemampuan jurnalisme yang mengedepankan empati ini tampaknya kian dibutuhkan untuk memperbaiki berbagai kegagalan komunikasi antar personal, komunikasi kelompok, komunikasi organisasi, komunikasi sosial, ataupun komunikasi antar budaya yang kerap menyulut kesalahpahaman, sikap saling menghakimi, saling menyalahkan, dan bahkan konflik kekerasan yang sewaktu-waktu bisa mengancam hubungan sesama warga bangsa yang heterogen ini.

Ruang publik (media) kita dewasa ini dipenuhi dengan prasangka, ketidakpercayaan, sikap kesombongan dari orang kepada sekelompok orang, dari penguasa kepada rakyatnya, dan dari rakyat kepada pemerintahnya dan seterusnya.

Untuk itulah perlu digagas kembali perlunya sebuah jurnalisme empati sebagai antitesis terhadap berkembangnya jurnalisme yang mengedepankan kontroversi, keanehan, dan talking news.(*)

Yosep Adi Prasetyo adalah mantan Ketua Dewan Pers (2016-2019), mantan komisioner Komnas HAM dan salah satu pendiri Aliansi Jurnalis Independen (AJI).

Foto depan: John Hain (Pixabay)

Share: