Pandemi Mengungkap Ketimpangan dalam Komunitas yang Terpinggirkan

Foto: Para petani garam di Vietnam (Quang Praha, Pixabay)

Media di Asia memotret bagaimana pandemi Covid-19 telah berdampak buruk terhadap nasib komunitas terpinggirkan.

James Gomez, Mustafa Talpur

Situasi genting komunitas yang terpinggirkan telah meningkat secara tajam selama pandemi Covid-19. Pandemi telah membawa kebutuhan terhadap akses bantuan pemerintah, yang seringkali tidak kunjung datang, dan menyebabkan konsekuensi dramatis, seperti peningkatan angka bunuh diri.

Konsekuensi mengerikan dari tindakan pencegahan tersebut ditampilkan secara menyolok oleh Thailand yang memiliki tingkat bunuh diri tertinggi, meskipun negara ini merupakan kekuatan ekonomi terbesar kedua di Asia Tenggara. Angka kemiskinan telah meningkat secara dramatis di Thailand dan kemiskinan akibat hutang telah mendorong banyak orang melakukan bunuh diri.

Kebutuhan terhadap bantuan publik merupakan bukti dalam mengatasi amplifikasi penderitaan selama pandemi yang disebabkan oleh ketidakadilan dan kemiskinan. Namun, ketidakmampuan Pemerintah untuk memberikan bantuan juga dipertanyakan. Salah satu contohnya adalah kesulitan yang dihadapi Thailand dalam memberikan bantuan keuangan kepada masyarakat yang paling miskin. Pemerintah bahkan mengimbau para pengusaha terkaya untuk membantu!

Perjuangan untuk bertahan hidup di tengah pandemi disorot oleh para jurnalis yang menggarap isu ketimpangan, ketidakadilan, dan kemiskinan yang karyanya tampil dalam “Journalism for an Equitable Asia Award” yang diselenggarakan oleh Asia Centre dan Oxfam Wilayah Asia di Bangkok, Thailand pada 24 Maret 2021.

Para jurnalis tersebut menyoroti ketimpangan di masyarakat. Mereka menunjukkan bahwa pandemi Covid-19 secara dramatis memperburuk kerentanan dan penderitaan banyak kelompok: anak-anak, masyarakat adat, pekerja migran, pengungsi, dan perempuan.

Ketimpangan

Dengan menggunakan “cara lama” jurnalisme – mendengarkan dan berinteraksi dengan para korban – mereka dengan tekun mendokumentasikan ketegaran kelompok-kelompok yang menghadapi kondisi dan praktik yang keras serta tidak adil tersebut, yakni saat mereka berusaha mencari nafkah di pelbagai sektor dan lokasi, seperti: kaum perempuan di pekerjaan berbasis rumahan, sektor transportasi, perempuan yang memberikan perawatan kesehatan di daerah terpencil, perempuan asisten rumah tangga, perempuan dan anak-anak di daerah konflik, petani di pedesaan dari komunitas minoritas, pengungsi musiman tanpa kewarganegaraan, dan komunitas transgender yang kehilangan sumber mata pencaharian mereka yang memang sangat terbatas.

Para jurnalis tersebut berhasil mendokumentasikan kisah sedih di lapangan. Ketimpangan dan ketidakadilan yang mempengaruhi perempuan miskin khususnya telah ditampilkan di seluruh karya liputan. Perempuan di daerah pegunungan terpencil di Pakistan yang memberikan bantuan perawatan kesehatan menghadapi prasangka dalam masyarakat yang didominasi laki-laki, tidak menerima kompensasi yang memadai. Mereka bahkan masih menanggung beban kesalahan informasi dan konspirasi terkait pengobatan untuk Covid-19. Konspirasi sebelumnya telah menyebabkan mereka dicap sebagai “perempuan lumpuh”.

Transpuan di Singapura sangat terdampak karena lockdown telah membuat mereka kehilangan tempat di mana mereka dapat menggunakan satu-satunya komoditas yang diharapkan masyarakat dari mereka – kecantikan. Ketidakmampuan mereka untuk mengakses sektor ekonomi lain menempatkan mereka pada situasi yang sangat menyedihkan.

Perempuan dan anak-anak di zona konflik di Filipina, tidak memiliki akses pada perawatan dasar sebelum dan sesudah melahirkan. Mereka sangat rentan terhadap segala bentuk kekerasan, baik fisik maupun struktural.

Sektor pekerja berbasis rumahan di Pakistan, 80 persen di antaranya adalah kaum perempuan yang tidak memiliki tunjangan dasar dan jaminan sosial. Saat ini, mereka berani mendorong pengakuan sebagai ‘pekerja’ dan telah mengusulkan rancangan undang-undang.

Kehilangan pekerjaan dan mal-praktik perburuhan terjadi di Ho-Chi-Minh, Vietnam, di mana gaji, upah lembur dan asuransi perawatan kesehatan telah dipotong. Selain itu, penderitaan mereka membuat mereka rentan terhadap para geng yang merampas uang mereka melalui situs-situs perekrutan palsu.

Dampak pandemi

Sektor transportasi di Filipina terdampak Covid-19, karena pekerja jeepney tiba-tiba tidak dapat beroperasi di saat lockdown. Sudah miskin, keputusasaan mereka diperparah dengan rencana Pemerintah untuk merombak sektor transportasi dan bergerak menuju transportasi yang lebih hijau dan berkelanjutan. Ini berarti mengganti jeepney saat ini dengan model yang lebih modern dan tidak banyak menimbulkan polusi. Biaya transformasi tersebut dibebankan pada pengemudi jeepney, dengan sedikit atau tanpa bantuan pemerintah.

Buruh migran dengan status pekerja lepas di seluruh Asia tidak memiliki akses terhadap jaminan dasar, tunjangan dan layanan sosial. Pekerja tersebut termasuk minoritas dan masyarakat adat, yang pengiriman uangnya ke keluarga mereka di kampung halaman, praktis berhenti dalam semalam.

Kisah-kisah menarik dari para jurnalis tersebut mengedepankan tugas pemerintah untuk menghormati hak-hak dasar dan standar ketenagakerjaan di bawah undang-undang ketenagakerjaan dan hak asasi manusia internasional: kebebasan berserikat, hak untuk berorganisasi, hak berunding bersama, larangan kerja paksa dalam segala bentuk, larangan pekerja anak, hak atas upah yang sama, larangan diskriminasi dalam pekerjaan, dan hak atas standar hidup yang layak.

Kisah-kisah di atas menunjukkan tingginya ketimpangan ekonomi di negara-negara Asia yang semakin diperburuk oleh pandemi Covid-19. Bukti kuat yang dihasilkan oleh para jurnalis di seluruh Asia menunjukkan bahwa pemerintah harus memprioritaskan penanganan ketimpangan dan menghindari kembali ke model cacat ekonomi yang hanya menguntungkan segelintir orang kaya dengan mengorbankan orang miskin, perempuan, dan komunitas yang terpinggirkan; model yang telah membawa kita ke jurang ini dan tidak lagi berkelanjutan. Sangatlah penting untuk memanfaatkan peluang untuk membangun jalur pemulihan ekonomi yang inklusif, berpusat pada manusia dan lingkungan.

Tugas jurnalis adalah terus-menerus mengungkap ketimpangan dan ketidakadilan dalam masyarakat serta menjaga akuntabilitas pemerintah. Ini sangat kritis dan semakin sulit di era ketika media arus utama tidak dipercaya. Di situlah letak nilai “Journalism for an Equitable Asia Award” – untuk mendorong dan menghargai jurnalisme berbasis fakta yang kuat. Nominasi untuk siklus 2021-2022 akan dibuka akhir tahun ini.(*)

James Gomez, PhD, adalah Direktur Regional Asia Centre dan Mustafa Talpur adalah Manajer Advokasi dan Kampanye Regional-Asia untuk Oxfam International. Asia Centre dan Oxfam Wilayah Asia adalah penyelenggara bersama “Journalism for an Equitable Asia Award”.

*** Tulisan ini diterjemahkan oleh Wisnu T Hanggoro, Direktur The Tamborae Institute, yang menjadi salah satu juri dalam penghargaan di atas.

Share: