6 Tool AI untuk Jurnalis: Dari Editing Naskah Hingga Verifikasi Visual

foto: pixabay

Girindra Wardhana

Kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) semakin digunakan sebagai alat pendukung kerja jurnalistik di ruang redaksi. AI dapat membantu sejumlah pekerjaan, mulai dari riset awal, membaca dokumen dan transkripsi wawancara hingga penyuntingan naskah, penerjemahan, pengolahan audio-video, pembuatan visual, dan optimasi konten.

Namun, AI bukan pengganti jurnalis. Teknologi ini dapat membantu pekerjaan yang repetitif dan memakan waktu, tetapi keputusan editorial tetap berada di tangan reporter dan editor. Fakta, angka, nama, kutipan, konteks, dan informasi yang dihasilkan AI harus diperiksa kembali sebelum dipublikasikan.

Penggunaan AI juga tidak bisa mengubah prinsip dasar jurnalistik: akurasi, keberimbangan, konteks, dan verifikasi. AI dapat salah membaca transkrip, keliru menginterpretasikan data, menghasilkan informasi yang tidak benar, mencampuradukkan konteks, atau memberikan sumber yang tidak ada. Karena itu, AI sebaiknya digunakan untuk membantu proses jurnalistik, bukan menggantikan proses jurnalistik. Media juga perlu memiliki kebijakan mengenai AI disclosure atau keterbukaan penggunaan AI.

Pedoman terbaru Associated Press (AP), misalnya, menegaskan bahwa AI dapat membantu tugas tertentu, tetapi verifikasi, penilaian editorial, dan akuntabilitas tetap menjadi tanggung jawab jurnalis.

AI juga tidak menggantikan pekerjaan jurnalistik yang membutuhkan kehadiran manusia di lapangan. Melakukan wawancara, mengamati peristiwa secara langsung, membangun hubungan dengan narasumber, mendapatkan informasi eksklusif, membaca situasi sosial, dan memahami konteks sebuah peristiwa tetap membutuhkan kemampuan dan pertimbangan manusia.

Berikut 6 tool AI dan tool berbasis teknologi digital yang dapat membantu kerja jurnalis. Penggunaannya sebaiknya ditempatkan sebagai bagian dari alur kerja, bukan sebagai sumber utama informasi.

NotebookLM: membantu membaca dan memahami dokumen

NotebookLM merupakan asisten riset berbasis AI yang memungkinkan pengguna memasukkan sumber, mengajukan pertanyaan, membuat ringkasan, dan menghasilkan audio overview berdasarkan sumber tersebut.

    Dalam kerja jurnalistik, NotebookLM dapat membantu memahami laporan tahunan, dokumen kebijakan, penelitian akademis, laporan investigasi, transkrip, maupun kumpulan dokumen publik. Karena hasilnya bergantung pada sumber yang diberikan, jurnalis tetap perlu memeriksa dokumen asli sebelum menggunakan informasi dalam berita.

    Cocok untuk membaca dokumen panjang, membandingkan dokumen, membuat ringkasan berbasis sumber, menemukan tema dan poin penting.

    Google Pinpoint: riset dokumen dan transkripsi

    Google Pinpoint merupakan bagian dari Journalist Studio dan dirancang untuk membantu jurnalis, peneliti akademis, serta content creator menganalisis kumpulan dokumen dalam jumlah besar. Google menjelaskan bahwa Pinpoint menggunakan teknologi seperti pencarian, OCR, dan speech-to-text untuk membantu menelusuri bahan.

    Pinpoint dapat digunakan untuk mengunggah dan mencari berbagai jenis bahan, termasuk PDF, gambar, audio, video, email, halaman web, dokumen Google, dan file Microsoft Office. File audio dapat ditranskripsikan sehingga isinya dapat ditelusuri.

    Bagi jurnalis, Pinpoint dapat membantu menelusuri dokumen dalam jumlah besar, mencari nama atau informasi tertentu, serta mengolah rekaman wawancara menjadi transkrip. Hasil pencarian dan transkripsi tetap perlu diperiksa terhadap dokumen atau rekaman asli.

    Cocok untuk riset investigasi, analisis dokumen, pencarian informasi, pengorganisasian bahan liputan, dan transkripsi.

    Descript: mengedit audio dan video melalui teks

    Descript memungkinkan pengguna mengedit audio dan video dengan mengedit transkrip teks. Setelah rekaman ditranskripsikan, pengguna dapat memotong atau mengatur bagian video dan audio melalui teks tersebut.

    Bagi jurnalis, pendekatan ini dapat membantu mengolah rekaman wawancara, podcast, atau video untuk berbagai platform. Namun, transkripsi otomatis tetap perlu diperiksa, terutama untuk nama, angka, istilah, dan kutipan.

    Cocok untuk transkripsi, editing wawancara, podcast, video berita, subtitle, dan produksi video berbasis teks.

    Canva: infografis, visualisasi data, dan konten multiplatform

    Canva dapat digunakan sebagai alat pendukung untuk membuat infografis, visualisasi data, thumbnail, video pendek, dan materi visual untuk berbagai platform. Canva juga menyediakan sejumlah fitur dan sumber daya yang ditujukan untuk kebutuhan jurnalisme.

    Untuk jurnalis, Canva dapat membantu mengubah data atau informasi yang sudah diverifikasi menjadi format visual seperti grafik, timeline, kartu informasi, atau konten media sosial. Visual tetap perlu diperiksa agar tidak mengubah atau menyederhanakan fakta secara menyesatkan.

    Cocok untuk infografis, visualisasi data, kartu berita, grafik, thumbnail, video pendek, dan konten media sosial.

    ChatGPT: riset awal, brainstorming, dan penyuntingan naskah

    Bagi jurnalis, ChatGPT dapat digunakan sebagai alat pendukung untuk membuat kerangka berita, melakukan brainstorming sudut pemberitaan, menyederhanakan kalimat, membuat alternatif judul, merangkum dokumen, menyusun pertanyaan wawancara, menerjemahkan teks, dan membantu menganalisis data yang diberikan pengguna.

    ChatGPT juga dapat digunakan untuk membuat gambar ilustrasi. Namun, gambar yang dihasilkan AI tidak boleh diperlakukan sebagai foto dokumenter atau bukti visual sebuah peristiwa. Penggunaannya dalam produk jurnalistik perlu mengikuti kebijakan redaksi mengenai konten yang dibuat atau dimodifikasi dengan AI. OpenAI menyediakan pembuatan gambar di ChatGPT, termasuk bagi pengguna gratis dengan batas penggunaan tertentu.

    Cocok untuk riset awal, brainstorming, editing, rewriting, ringkasan, penerjemahan, dan analisis dokumen.

    Alternatif: Gemini, Claude.

    InVID-WeVerify: verifikasi foto, video, dan konten visual

    InVID-WeVerify merupakan toolkit verifikasi multimedia yang dapat membantu jurnalis memeriksa foto dan video dari internet. Tool ini menyediakan sejumlah fungsi, antara lain reverse image search, ekstraksi keyframe dari video, pemeriksaan metadata, pencarian konteks, dan forensic filters untuk gambar.

    Tool ini dapat menjadi bagian dari proses verifikasi, tetapi bukan pengganti pemeriksaan jurnalistik. Hasil dari satu alat tidak cukup untuk membuktikan keaslian sebuah konten. Jurnalis tetap perlu memeriksa sumber asli, waktu dan lokasi, konteks, serta membandingkan informasi dengan sumber lain yang dapat dipercaya.

    Cocok untuk cek fakta foto, verifikasi video, reverse image search, penelusuran sumber visual, investigasi konten media sosial, dan verifikasi UGC. (*n1).